Paket Wisata Budaya di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat melalui Pertunjukan Wayang Wong Gagrak Yogyakarta
DOI:
https://doi.org/10.36276/mws.v23i2.975Keywords:
Wayang Wong, Artists, cultural tourism, Attraction, Keraton NgayogyakartaAbstract
Yogyakarta Style Wayang Wong is a traditional performance art that blends dance, music, and theater into a cohesive artistic experience. Nowadays, these performances are held at the Srimanganti Hall in the Yogyakarta Palace as part of a tourist attraction. The inclusion of Wayang Wong in tourism is thought to have altered its original purpose and function, highlighting the need to understand how dance artists perceive and engage with this change. This study aims to explore the perspectives and roles of dance artists regarding Wayang Wong as a cultural tourism draw. The research employs a descriptive qualitative method with a phenomenological approach, which seeks to uncover the meanings of experiences shared by individuals. In this context, dance artists involved in Wayang Wong are facing various adaptations. They are aware of the implications of these changes, particularly the commercialization of Wayang Wong as a tourist attraction, leading to distinct viewpoints and roles among the artists. The findings indicate that (1) the transformation of the performance has resulted in changes to its value and function due to its focus on tourism; and (2) dance artists serve both as conservers and commercial proponents of Wayang Wong as a cultural tourism experience.
References
Adorno, T. W., & Horkheimer, M. (2019). The Culture Industry: Enlightenment as mass deception. In Philosophers on Film from Bergson to Badiou: A Critical Reader (pp. 80-96). Columbia University Press.Adorno dan Horkheimer. https://doi.org/10.7312/kul-17602-005
Akuari, R. K. C. (2018). Strategi Pemasaran Bisnis Musik Di Boni Entertainment Magelang (Doctoral dissertation, Institut Seni Indonesia Yogyakarta). http://digilib.isi.ac.id/id/eprint/4285
Asih, I. D. (2005). Fenomenologi Husserl: Sebuah Cara “Kembali Ke Fenomena”. Jurnal Keperawatan Indonesia, 9(2). https://doi.org/10.7454/jki.v9i2.164
Azkiya, Balqis Tsabita. (2022) “Studi Fenomenologi: Pengertian dan Fokus Penelitiannya”
https://www.kompas.com/skola/read/2022/03/16. Diakses pada tanggal 23 Agustus 2023
Bahri, A. S. (2015). “Pertunjukan Kesenian Ebeg Grup Muncul Jaya Pada Acara Khitanan di Kabupaten Pangandaran” (Doctoral dissertation, Universitas Pendidikan Indonesia). http://repository.upi.edu/id/eprint/20430
Cooper, et.all, (2005). Tourism: Principles and Practice, 3nd ed., New York: Prentice Hall.
Corry Shafia Siti Khoeriyah. (2018). Daya Tarik dan Pelestarian Tari Buyung Sebagai Potensi Wisata Budaya di Kabupaten Kuningan. Digilib UNS. https://digilib.uns.ac.id
Dinas Kebudayaan Tim Penyusun Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta. (2018). “Menguak Kejayaan Bangunan Masa Lalu Kota Yogyakarta”. https://kebudayaan.jogjakota.go.id/page/index/kawasan-kraton Diakses pada tanggal 7 Desember 2025
Dodi Slamet Riyadi. (2002). Pengembangan Wilayah: Teori dan Konsep Dasar, Jakarta: Pusat Pengkajian Kebijakan Teknologi Pengembangan Wilayah BPPT
Hasbiansyah, O. J. M. J. K. (2008). Pendekatan Fenomenologi: Pengantar Praktik Penelitian Dalam Ilmu Sosial dan Komunikasi. Mediator: Jurnal Komunikasi, 9(1), 163-180.
Ismayanti. (2010). Pengantar Pariwisata. Jakarta: Grasindo
Mulyantari, Enny. (2016). “Strategi Pengembangan Situs Manusia Purba Sangiran sebagai Daya Tarik Wisata Budaya”. Jurnal Media Wisata, Volume 14. Nomor: 1. Mei 2016
Munsters, W., & Richards, G. (2010). Methods In Cultural Tourism Research: The State Of The Art. https://doi.org/10.1079/9781845935184.0209
Pitana I. Gde. dan I Ketut Surya Diarta, (2009). „Pengantar Ilmu Pariwisata”. Yogyakarta: Andi Ofset
Putri, D. M. J. D. (2021). Peran Komunitas Jatiwangi Art Factory Dalam Pelestarian Kebudayaan Lokal Di Desa Jatisura Kecamatan Jatiwangi Kabupaten Majalengka (Doctoral dissertation, Universitas Pendidikan Indonesia). http://repository.upi.edu/id/eprint/70381
Prasodjo, T. (2017). Pengembangan Pariwisata Budaya dalam Perspektif Pelayanan Publik. Jurnal Office, 3(1), 8-12
Sahri, M. A. (2019). Pembelajaran Drama Tari Musik Terintegrasi Pada Pelajaran Seni Budaya Di SMP N 9 Yogyakarta (Doctoral dissertation, ISI Yogyakarta). http://digilib.isi.ac.id/id/eprint/5904
Subrata, I Wayan, Dr. MA. (2014) “Komodifikasi Tari Barong” http://dx.doi.org/10.26742/panggung.v26i3.187
Soedarsono, RM. (2010). Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
______ (1998). Seni Pertunjukan Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
______(1997). Wayang Wong: “Drama Tari Ritual Kenegaraan di Keraton Yogyakarta. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
______(1984). Tari Tinjauan Dari Berbagai Segi. Jakarta : PT. Dunia. Pustaka Jaya
Soekadijo, RG., (1996). Anatomi Pariwisata: Memahami Pariwisata Sebagai “Systemic Linkage”. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
Spillane, James Joseph. (1987). Pariwisata Indonesia: Sejarah dan Pospeknya. Yogyakarta: Penerbit Kanisius
Soekanto. (2002). “Teori Peranan”. Jakarta: Bumi Aksara.
Sugiyono, (2022). “Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D”. Bandung: Alfabeta
Undang-Undang Nomor 10 tahun 2009 Tentang Kepariwisataan
Wulan, P., & Handayaningrum, W. (2020). Pesona Tari sebagai Aset Pariwisata Budaya Indonesia. SALAM; Jurnal Sosial & Budaya Syar-I, 7(4), 283-298.
Yoeti, Oka. A. (2006). “Pariwisata Budaya Masalah dan Solusinya”. Jakarta: PT. Pradnya Paramita
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
Categories
License
Copyright (c) 2025 Enny Mulyantari Mulyantari, Mona Erythrea Nur Islami, Diajeng Kusuma Megandini, Setyo Prasiyono Nugroho

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
